alasan-utama-marseille-bisa-kalah-dari-liverpool

Alasan Utama Marseille Bisa Kalah dari Liverpool

Alasan Utama Marseille Bisa Kalah dari Liverpool. Pertandingan ini seharusnya menjadi kesempatan Marseille untuk membuktikan diri di hadapan pendukung setia mereka, terutama setelah Roberto De Zerbi membawa angin segar ke tim. Namun, Liverpool tampil jauh lebih superior dalam hampir semua aspek permainan. Gol Szoboszlai di injury time babak pertama langsung mematahkan semangat, dan dua gol tambahan di babak kedua membuat laga semakin berat. Kekalahan ini bukan karena kurangnya usaha, melainkan kombinasi kesalahan taktis, ketidakmampuan menahan pressing, dan kurangnya ketajaman di depan gawang. Alasan-alasan ini menjadi penjelasan mengapa Marseille tak mampu bersaing meski punya potensi. REVIEW FILM

Tekanan Tinggi Liverpool yang Mematikan: Alasan Utama Marseille Bisa Kalah dari Liverpool

Salah satu faktor terbesar kekalahan Marseille adalah ketidakmampuan mereka menghadapi pressing agresif Liverpool sejak menit awal. Arne Slot menerapkan garis pertahanan tinggi dan pressing intens, membuat para gelandang serta bek Marseille sering kehilangan bola di area sendiri. Transisi cepat dari bertahan ke menyerang menjadi senjata utama Liverpool, sementara Marseille kesulitan membangun serangan dari belakang. Banyak umpan pendek yang seharusnya aman justru berakhir di kaki lawan, terutama di area tengah. Own goal Rulli di menit 72 lahir dari situasi persis ini: tekanan Jeremie Frimpong memaksa kiper melakukan kesalahan fatal. Tekanan seperti itu membuat Marseille kehilangan ritme dan tak pernah benar-benar menguasai permainan.

Kurangnya Ancaman di Kotak Penalti dan Finishing Buruk: Alasan Utama Marseille Bisa Kalah dari Liverpool

Marseille memang menciptakan beberapa peluang, tapi hampir semuanya gagal dieksekusi dengan baik. Penyerang utama mereka kesulitan menembus pertahanan solid Virgil van Dijk dan Joe Gomez, sementara umpan silang dari sayap sering melambung atau langsung diamankan Alisson Becker. Statistik menunjukkan mereka punya beberapa tembakan, tapi hanya sedikit yang benar-benar mengancam. Kurangnya klinis di depan gawang menjadi masalah berulang musim ini, dan malam itu terlihat jelas. Bahkan saat Liverpool sedikit longgar di babak kedua, Marseille tak mampu memanfaatkan celah. Sebaliknya, Liverpool cukup efisien dengan tiga gol dari peluang terbatas, menunjukkan perbedaan kualitas penyelesaian akhir yang sangat mencolok.

Masalah Set-Piece dan Ketidakdisiplinan di Tendangan Bebas

Tendangan bebas menjadi momen krusial yang mengubah segalanya. Di injury time babak pertama, Szoboszlai mengeksekusi tendangan bebas dengan sempurna—bola melengkung rendah menembus celah pagar tembok yang kurang rapat. Pemain Marseille gagal menutup ruang dengan baik, dan kiper Rulli terlambat bereaksi karena posisi yang kurang ideal. Gol itu bukan hanya memberi keunggulan, tapi juga memengaruhi mental tim tuan rumah. Setelah itu, Marseille semakin terbuka dan rentan terhadap serangan balik. Ketidakdisiplinan dalam bertahan bola mati, yang seharusnya jadi kekuatan tim De Zerbi, justru menjadi kelemahan fatal malam itu. Liverpool memanfaatkan momen itu dengan baik, sementara Marseille tak punya jawaban efektif.

Kesimpulan

Marseille kalah dari Liverpool karena tak mampu mengatasi pressing tinggi lawan, kurang tajam di depan gawang, serta kesalahan krusial di set-piece yang langsung mengubah jalannya pertandingan. Meski bermain di kandang dan punya dukungan suporter besar, mereka kalah dalam hal organisasi, intensitas, dan efektivitas. Kekalahan ini jadi pelajaran berharga bagi De Zerbi untuk memperbaiki transisi bertahan dan ketajaman serangan. Di sisi lain, hasil ini mengukuhkan kekuatan Liverpool di bawah Slot, yang terus menunjukkan performa konsisten di kompetisi Eropa. Marseille masih punya waktu untuk bangkit di laga-laga berikutnya, tapi malam di Vélodrome jelas menunjukkan betapa jauh jarak kualitas saat ini.

BACA SELENGKAPNYA DI…